TAHUKAH ANDA DI
MANA ALLAH?
Perjuangan
gigih para ulama’ (yang mengikuti pemahaman beragamanya para Sahabat, Tabi’in,
Tabi’ut Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka) dalam membela aqidah
dari qoncangan faham-faham hitam Jahmiyyah sangatlah kuat, sehingga begitu
banyak kitab para ulama yang berjudul “Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah” (Bantahan
Terhadap Jahmiyyah) seperti yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Utsman bin
Sa’id Ad-Darimi, Ibnu Mandah, Ibnu Baththah dan lain sebagainya.
Sungguh
benar Imam Ibnu Qayyim rahimahullah yang telah berkata:
“Pertempuran
antara ahli hadits dengan kelompok Jahmiyyah lebih dahsyat daripada pertempuran
antara pasukan kafir dengan pasukan Islam”.[1]
Munculnya
ide pembahasan ini karena merebaknya para pengibar bendera Jahmiyyah di negeri
ini. Sebagai contoh, Dr.M.Quraish Shihab yang mengatakan dalam bukunya
“Membumikan Al-Qur’an” hal: 371-372 cet. Al-Mizan [2], Bandung pada judul
“Selamat Natal [3] Menurut Al-Qur’an!!!”:
“Nabi
SAW[4] sering menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun
bertanya “Di mana Tuhan?”. Tertolak riwayat yang menggunakan redaksi itu karena
ia menimbulkan kesan keberadaan tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil
bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi SAW…”.
Pada
pembahasan kali ini, sebagai pembelaan terhadap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan penjagaan umat dari goncangan kerancuan aqidah, penulis melakukan
penelitian terhadap salah satu hadits tentang masalah penting ini secara
riwayah dan dirayah. Semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi kita semua.
Amin.
Ø Terjemahan Hadits
(Teks Arabnya terbalik-balik ketika di Copy)
“Dari Muawiyah bin Hakam As-Sulami
-radhiyallahu‘anhu- berkata: “…Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja
sebagai pengembala kambing di gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (tempat dekat
gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan
seekor dombanya. Saya termasuk dari bani Adam, saya juga marah sebagaimana
mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datang pada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata beliau menganggap besar
masalah itu. Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak
itu?” Jawab beliau: “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bertanya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit”.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Siapa saya?”. Jawab budak
tersebut: “Engkau adalah Rasulullah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah”.
Ø Takhrij Hadits
Seluruh
jalan hadits ini melewati dua jalur berikut:
Jalur
Imam Malik bin Anas - Hilal bin Ali bin Abu Maimunah - Atha’ bin Yasar - Muawiyah
bin Hakam As-Sulami.
Jalur
Yahya bin Abi Katsir - Hilal bin Ali bin Abi Maimunah - Atha’ bin Yasar -
Muawiyah bin Hakam As-Sulami.
Adapun
perinciaan takhrij hadits ini sebagai berikut:
1.
Jalur Imam Malik
Hal
ini sebagaimana riwayat beliau sendiri dalam
Al-Muwatha (2/772/no.8), Imam Syafi’i dalam Ar-Risalah (no. 242-Tahqiq
Syaikh Ahmad Syakir-), Nasa’i dalam Sunan Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul
Asyraf (8/427) oleh Al-Mizzi, Utsman bin Said Ad-Darimi dalam Ar-Radd ‘ala
Jahmiyyah (no. 62), Ibnu Huzaimah dalam Kitab Tauhid (hal. 132 -Tahqiq Syaikh
Khalil Haras-), Al-Baihaqi dalam Sunan Kubra (10/98/no. 19984), Al-Baghawi
dalam Syarh Sunnah (9/246/no. 2365), Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (9/69-70)
dan Al-Ashbahani dalam Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah (2/102/no. 57).
(Faedah)
Dalam
sanad imam Malik tertulis “Umar bin Hakam” sebagai ganti dari “Mu’awiyah bin
Hakam”. Para ulama’ menilai bahwa hal ini merupakan kesalahan imam Malik. Imam
pembela sunnah, As-Syafi’i berkata -setelah meriwayatkan hadits ini dari imam
Malik: “Yang benar adalah Mua’wiyah bin Hakam sebagaimana diriwayatkan selain
Malik dan saya menduga bahwa Malik tidak hafal namanya”. [5]
Imam
Ibnu Abdil Barr berkata: “Demikianlah perkataan Malik dalam hadits ini dari
Hilal dari Atha’ dari Umar bin Hakam.
Para perawi darinya (Malik) tidak berselisih dalam hal itu. Tetapi hal ini
termasuk kesalahan beliau (Malik) menurut seluruh ahli hadits karena tidak ada
sahabat yang bernama Umar bin Hakam, yang ada adalah Mu’awiyah (bin Hakam).
Demikianlah riwayat seluruh orang yang meriwayatkan hadits ini dari Hilal.
Mua’wiyah bin Hakam termasuk dari kalangan sahabat yang terkenal dan hadits ini
juga masyhur darinya. Diantara ulama’ yang menegaskan bahwa Malik keliru dalam
hal itu adalah Al-Bazzar, At-Thahawi dan selainnya”. [6]
2.
Jalur Yahya bin Abi Katsir
Sepanjang
penelitian saya, ada empat orang yang meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir.
Berikut perinciannya:
Hajjaj bin Abu Utsman Ash-Shawwaf
Diriwayatkan
imam Ahmad dalam Musnadnya (5/448), Al-Bukhari dalam Juz’ul Qira’ah (hal. 70),
Abu Daud (no. 931 dan 3282), Nasa’i dalam Sunan Kubra sebagaimana dalam
Tuhfatul Asyraf (8/427), Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Tauhid (hal. 132),
Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (3/237-239/no. 726) dan At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul
Kabir (19/398/no. 938) dari Yahya bin Sa’id Al-Qhoththon dari Hajjaj dengannya.
Dan
diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (6/162/no.30333) dan al-Iman
(84), Muslim dalam Shahihnya (no. 537), Ahmad (5/447), Abu Daud (no. 931), Ibnu
Hibban (165), Utsman bin Sa’id Ad-Darimi dalam Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah (no.61),
Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (490) dan Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo (no.212
-Ghautsul Makdud oleh Al-Huwaini-) dari Ismail bin Ibrahim (bin ‘Ulayyah) dari
Hajjaj dengannya.
(Faedah)
Dalam
kitab “Juz’ul Qira’ah” hal. 20 oleh imam Bukhari cet.Darul Kutub ‘Ilmiyyah
tertulis begini Yahya bin Hilal ( حَدَّثَنَا
يَحْيَ بْنُ هِلاَلٍ). Ini adalah keliru yang benar adalah Yahya ‘an (dari)
Hilal (حَدَّثَنَا يَحْيَ عَنْ هِلاَلٍ). Yahya namanya adalah Yahya bin Abi
Katsir dan Hilal namanya adalah Hilal bin Ali bin Abi Maimunah. Wallahu A’lam.
Al-Auza’i
Diriwayatkan
Imam Muslim dalam Shahihnya (537), Abu Awanah dalam al-Mustkhraj (2/141),
Nasa’i dalam Sunan Sughra (3/14-18/no.1216), Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Tauhid
(hal.121), At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir (19/398/no.937), Al-Baihaqi
dalam As-Sunan Kubra (10/98/19984) dan Al-Asma’ wa Sifat (2/326/890-891),
ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Atsar (13/367), Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid
(9/71) dan Al-Ashbahani dalam Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah (2/100/no. 69).
Aban bin Yazid Al-Aththar
Diriwayatkan
Abu Awanah dalam Al-Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim (2/1141), At-Thoyyalisi dalam
Musnadnya (1105), Ahmad dalam Musnadnya (5/448), Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah
(489), Utsman bin Sa’id Ad-Darimi dalam Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah (no. 60) dan
Naqdh Alal Marisy (122), At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir (939), Al-Baihaqi
dalam Al-Asma’ wa Sifat (2/326/890-891) dan Al-Lalikai dalam Syarh Ushul
I’tiqad Ahli Sunnah (3/434-435/no. 652).
Hammam bin Yahya
Diriwayatkan
Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya (5/448).
Hadits
ini juga memiliki syawahid (penguat) dari sahabat Abu Hurairah, Abu Juhaifah,
Ibnu Abbas, Ukkasyah Al-Ghanawi dan Abdur Rahman bin Hathib secara mursal. [7]
Ø Komentar Para Ulama’ Ahli Hadits
Hadits
ini disepakati keabsahannya oleh seluruh ulama’ kaum muslimin. Berikut sebagian
komentar mereka:
1.
Syaikh
Muhammad Nasiruddin Al-Albani berkata: “Hadits ini
disepakati keabsahannya oleh para ulama muslimin semenjak dahulu hingga
sekarang dan dijadikan hujjah oleh imam-imam besar seperti Malik, Syafi’i,
Ahmad dan lainnya. Dan dishahihkan oleh Muslim, Abu Awanah, Ibnu Jarud, Ibnu
Huzaimah, Ibnu Hibban dan orang-orang yang mengikuti mereka dari para pakar dan
sebagian mereka adalah para pentakwil seperti Al-Baihaqi, Al-Baghawi, Ibnul
Jauzi, adz-Dzahabi, (Ibnu Hajar) Al-Asqalani dan lainnya. Lantas bagaimana
pendapat seorang muslim yang berakal terhadap orang jahil dan sombong yang
menyelishi para imam dan pakar tersebut, bahkan mencela lafadz Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang telah dishahihkan oleh para ulama tersebut?!!..”. [8]
2.
Imam
Al-Baihaqi berkata: “Hadits ini shahih, dikeluarkan Muslim”. [9]
3.
Imam
Al-Baghawi berkata: “Hadits ini shahih, dikeluarkan Muslim
dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Ismail bin Ibrahim dari Hajjaj”. [10]
4.
Imam
Al-Ashbahani berkata: “Dan sungguh telah shahih dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bertanya kepada seorang
budak wanita yang akan dibebaskan oleh tuannya: Dimana Allah? Jawab budak
tersebut: Di atas langit….”. [11]
5.
Imam
Ibnu Qudamah berkata: “Hadits ini shahih”. [12]
6.
Imam
Adh-Dzahabi berkata: “Hadits ini shahih, dikeluarkan
Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan imam-imam lainnya dalam kitab-kitab mereka dengan
memperlakukannya sebagaimana datangnya tanpa ta’wil dan tahrif”. [13]
7.
Al-Hafizh
Ibnu Hajar berkata: “Hadits shahih, diriwayatkan Muslim”. [14]
8.
Al-Wazir
al-Yamani berkata: “Hadits ini tsabit (shahih), diriwayatkan
oleh Muslim dalam Shahihnya”.[15]
9.
Imam
Muhammad Nasiruddin Al-Albani berkata: “Hadits ini
shahih dengan tiada keraguan. Tidak ada yang meragukan hal itu kecuali orang
jahil atau pengekor hawa nafsu yang setiapkali datang pada mereka dalil dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyelisihi keyakinan sesat
mereka, maka mereka langsung berusaha membebaskan diri darinya dengan
mentakwil, bahkan meniadakannya. Dan apabila mereka tidak mampu, maka mereka
berupaya untuk mementahkan keabsahannya seperti hadits ini yang shahih sanadnya
serta dishahihkan oleh seluruh ulama’ ahli hadits tanpa ada perselisihan
pendapat di kalangan mereka sepanjang pengetahuan saya”. [16]
Setelah
takhrij dan komentar para ulama ahli hadits diatas [17], kita dapat mengetahui
bagaimana kadar ilmu DR. Quraish Syihab!! -semoga Allah memberinya hidayah-
tentang ilmu hadits. Ataukah memang dia sengaja berusaha untuk menyebarkan
racun pemikirannya kepada orang-orang awam?!. Tidak..Tidak …Demi Allah, pasti
akan ada pejuang kebenaran yang akan menepis kerancuan fahamnya.
.أَمْرُاللهِ يَأْتِيَ حَتَّى خَذَلَهُمْ مَنْ يَضُرُّهُمْ
لاَ الْحَقِّ عَلَى ظَاهِرِيْنَ أُمَّتِيْ مِنْ طاَئِفَةٌ تَزَالُ لاَ
“Akan
senantiasa ada segolongan dari umatku yang tegak diatas Al-Haq, orang yang
melecehkan mereka tidak akan membahayakan mereka sehingga datang hari kiamat”. [18].
(Faedah)
Lafadz
fi (فِيْ) dalam hadits bermakna ‘ala (عَلَى)
yakni diatas, bukan bermakna zharaf (di dalam) sebagaimana dijelaskan
oleh para ulama seperti Ibnu Abdil Barr [19] dan Al-Baihaqi [20]. Hal ini
semakna dengan firman Allah:
.تَمُورُ هِيَ فَإِذَا اْلأَرْضَ بِكُمُ يَخْسِفَ أَن السَّمَآءِ
فِي مَّن ءَأَمِنتُم
“Apakah
kamu merasa aman terhadap Yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan
bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?. (QS.
Al-Mulk: 16).
.الْمُكَذِّبِينَ عَاقِبَةُ كَانَ كَيْفَ انْظُرُوا ثُمَّ
اْلأَرْضِ فِي سِيرُوا قُلْ
Katakanlah:
“Berjalanlah di atas muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan itu”. (QS. Al-An’aam: 11).
Demikian
juga semakna dengan hadits:
.السَّمَاءِ فِيْ مَنْ يَرْحَمْكُمْ الأَرْضِ فِيْ مَنْ
ارْحَمُوْا .وَتعَالَى تَبَارَكَ الرَّحْمَنُ يَرْحَمُهُمُ الرَّاحِمُوْنَ
“Orang-orang
yang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Kasihilah (makhluk) yang
di atas bumi, niscaya Yang di atas langit akan mengasihi kalian”. [21]
Demikianlah
penafsiran Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang beriman dengan dalil-dalil Al-Qur’an
dan hadits mutawatir yang menetapkan Allah di atas langit. Tidak ada penafsiran
yang benar selain ini. [22]
ü Fikih Hadits
Hadits
ini memiliki beberapa faedah yang sangat banyak sekali, namun agar tidak
terlalu panjang, maka kita cukupkan dua faedah saja yaitu:
1.
Disyariatkannya pertanyaan: Di mana
Allah?
Imam
Ad-Dzahabi berkata:
Dalam
hadits ini terdapat dua masalah:
Pertama:
Disyari’atkannya pertanyaan seorang muslim; Dimana Allah?
Kedua:
Jawaban orang yang ditanya: Di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari dua
masalah ini, maka berarti dia mengingkari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” [23].
Syariat
pertanyaan “Dimana Allah?” ini dikuatkan oleh hadits dan atsar sebagai berikut:
a.
Hadits
“Dari Abu Razin berkata:
Saya pernah bertanya: Ya Rasulullah, dimana Allah sebelum menciptakan makhlukNya?
Nabi menjawab: Dia berada di atas awan, tidak ada udara di bawahnya maupun di
atasnya, tidak makhluk di sana, dan ArsNya di atas air”. [24]
b.
Atsar
Dari
Zaid bin Aslam bercerita: “Ibnu Umar pernah melewati seorang pengembala kambing
lalu berkata: Hai pengembala kambing, adakah kambing yang layak untuk
disembelih? Jawab si pengembala tersebut: “Tuan saya tidak ada di sini”. Ibnu
Umar mengatakan: “Bilang saja sama tuanmu bahwa kambingnya dimakan oleh
serigala! Pengembala itu lalu mengangkat kepalanya ke langit seraya mengatakan:
“Lalu dimana Allah?”! Ibnu Umar berkata: Demi Allah, sebenarnya saya yang lebih
berhak mengatakan: Dimana Allah? Kemudian beliau membeli pengembala serta
kambingnya, membebaskannya dan memberinya kambing. [25]
Abdul
Ghoni al-Maqdisi berkata mengomentari hadits ini: “Siapakah yang lebih jahil
dan rusak akalnya serta tersesat jalannya melebihi seorang yang mengatakan
bahwa tidak boleh bertanya di mana Allah setalah ketegasan pembuat syari’at
dengan perkataannya dimana Allah?!”. [26]
Imam
Ibnu Qoyyim juga berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:
“Di mana Allah?” Lalu dijawab oleh yang ditanya bahwa Allah berada di atas
langit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kemudian ridha akan jawabannya
dan mengetahui bahwa itulah hakekat iman kepada Allah dan beliau juga tidak
mengingkari pertanyaan ini atasnya. Adapun kelompok Jahmiyyah, mereka
menganggap bahwa pertanyaan “Dimana Allah?” seperti halnya pertanyaan: Apa
warnanya, apa rasanya, apa jenisnya dan apa asalnya dan lain sebagainya dari
pertanyaan yang mustahil dan batil!”. [27]
Syaikh
Al-Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan: “Pendapat yang benar
menurut ahli sunnah adalah mensifati Allah dengan sifat uluw (tinggi) yaitu
diatas arsy berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits dan boleh juga menurut
ahlu sunnah bertanya: “Dimana Allah” sebagaimana dalam Shahih Muslim Nabi
shallallahu a’laihi wa sallam bertanya kepada budak perempuan: “Dimana Allah?”
Jawabnya: “Di atas langit”. [28]
Syaikh
Al-Muhaddits Muhammad Nasiruddin Al-Albani juga berkata: “Hadits ini merupakan
cemeti dahsyat bagi orang-orang yang meniadakan sifat-sifat Allah, karena
hampir saja engkau tidak bertanya kepada seorang diantara mereka dengan
pertanyaan di mana Allah? Kecuali mereka langsung mengingkarimu! Si miskin
(jahil) ini tidak tahu bahwa sebenarnya dia telah mengingkari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah melindungi kita semua dari ilmu
kalam (filsafat)”. [29]
Abu
Ubaidah -semoga Allah menambahkan ilmu baginya- berkata: “Perhatikanlah
perkataan para ulama’ di atas lalu bandingkan dengan ucapan mayoritas para
tokoh agama zaman sekarang yang jauh lebih jahil daripada budak wanita diatas,
dimana mereka mengatakan: “Allah ada dimana-dimana” bahkan mengatakan: Pertanyaan
“Dimana Allah” itu adalah bid’ah. Ironisnya, aqidah sesat bin menyesatkan ini
ditanamkan kepada anak-anak dan murid-murid yang lugu, tak mengerti apa-apa.
Saya masih teringat pada bulan Ramadhan 1423H, saya pernah diundang untuk
sebagai pemateri di sebuah sekolah Islam. Ketika saya lontarkan sebuah
pertanyaan sederhana “Dimana Allah?” ini kepada mereka, ternyata tak seorang
siswa maupun siswi-pun yang dapat menjawab secara benar bahkan seorang diantara
mereka mengatakan: “Kata pak guru, bertanya seperti itu enggak boleh!!!”.
Wallahul Musta’an.
2.
Allah
berada di atas langit
Imam
Utsman ad-Darimi berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa seorang
apabila tidak mengetahui kalau Allah itu di atas langit bukan di bumi maka dia
bukan seorang mukmin. Apakah anda tidak tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjadikan tanda keimanannya adalah pengetahuannya bahwa Allah di atas
langit?!! Dan dalam pertanyaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Di mana
Allah “ terdapat bantahan ucapan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Allah
berada di setiap tempat, tidak disifati dengan “di mana”, sebab sesuatu yang
ada di mana-mana tidak mungkin disifati “dimana”. Seandainya Allah ada
dimana-mana sebagaimana anggapan para penyimpang, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam akan mengingkari jawabannya…”. [30]
Memang
sederhana soalnya, tapi sungguh aneh bin ajaib jawabannya. Bagaimana tidak?
Seandainya Anda mau berkeliling Indonesia mengajukan satu pertanyaan sederhana
ini, niscaya Anda akan mendengarkan berbagai macam jawaban yang beraneka ragam;
Alloh ada di mana-mana… Alloh tidak di atas tidak di bawah… Alloh tidak di
kanan tidak di kiri… Alloh ada di hatiku… dan sederet jawaban lainnya.
Ironisnya, mayoritas dari para penjawab yang konyol itu adalah orang-orang yang
notabene intelektual, ulama, kyai, atau kaum terpelajar. Bagaimanakah
sebenarnya masalah ini? Mari kita ikuti ulasan berikut ini.
ü Dalil-Dalil Bahwa Allah di Atas
Arsy
Sungguh
tidak syak (ragu) lagi terutama bagi orang yang mau membaca ayat-ayat al-Qur’an
dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kitab-kitab ulama
kita bahwa Alloh berada di atas ‘arsy (singgasana)-Nya di atas langit. Berikut
ini dalil-dalilnya.
1.
Dalil dari al-Qur’an
Banyak
sekali dalil-dalil al-Qur’an yang menunjukkan ketinggian Alloh dengan beberapa
versi:
a. Kadang
dengan lafazh ‘ali (tinggi) dan istiwa’ (bersemayam) di atas ‘arsy. Seperti
firman Alloh:
.الْعَظِيْمُ الْعَلِيُّ
هُوَوَ
“Dan
Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. al-Baqarah: 255)
.اسْتَوَى الْعَرْشِ
عَلَى الرَّحْمَنُ
“Ar-Rahman
(Yang Maha Pemurah) bersemayam di atas ‘arsy”. (QS. Thaha: 5)
b. Kadang
juga dengan naiknya sesuatu kepada-Nya. Seperti firman Alloh:
.إِلَيْهِ يَصْعَدُ
الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
“Kepada-Nyalah
naik perkataan yang baik, dan amal shalih dinaikkan-Nya”. (QS. Fathir: 10)
.تَعْرُجُ الْمَلاَئِكَةُ
وَالرُّوْحُ إِلَيْهِ
“Malaikat-malaikat
dan Jibril naik kepada-Nya”. (QS. al-Ma’arij: 4)
c. Kadang
lagi dengan turunnya sesuatu dari-Nya. Seperti firman Alloh:
.بِالْحَقِّ رَّبِّكَ
مِن الْقُدُسِ رُوحُ نَزَّلَهُ قُلْ
“Katakanlah
Ruh Qudus (Jibril) menurunkan al-Qur’an dari Rabbmu dengan benar”. (QS.
an-Nahl: 102)
2.
Dalil dari as-Sunnah
Ketinggian
Alloh di atas langit juga ditegaskan dalam banyak sekali hadits Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beberapa versi, baik berupa perkataan,
perbuatan, dan taqrir (persetujuan). Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
.غَضَبِيْ سَبَقَتْ
رَحْمَتِيْ إِنَّ عَرْشِهِ فَوْقَ عِنْدَهُ كَتَبَ الْخَلْقَ قَضَى لَمَّا اللهَ إِنَّ
“Sesungguhnya
Alloh tatkala menetapkan penciptaan, Dia menulis di sisi-Nya di atas ‘arsy:
“Rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” [31]
Dan
juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
.السَّمَاءِ فيِ مَنْ
أَمِيْنُ وَأَنَا تَأْمَنُوْنِيْ أَلاَ
“Tidakkah
kalian mempercayaiku padahal aku dipercaya oleh Dzat yang di atas langit”. [32]
Dan
telah tetap pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya
ke atas langit pada saat khutbah di Arafah ketika mereka mengatakan, “Kami
bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan dan menunaikan serta menasehati.” Di
saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya Alloh saksikanlah.”
[33]
3.
Ijma’ (Kesepakatan) Para Ulama
Para
sahabat, para tabi’in, serta para imam-imam kaum muslimin telah bersepakat akan
ketinggian Alloh di atas langit-Nya, bersemayam di atas ‘arsy-Nya. Perkataan
mereka sangatlah banyak dan masyhur, Di antaranya:
Imam al-Auza’i berkata,
“Kami dan seluruh tabi’in bersepakat mengatakan, Alloh berada di atas
‘arsy-Nya. Dan kami semua mengimani sifat-sifat yang dijelaskan dalam
as-Sunnah.” [34]
Imam Abdullah Ibnu Mubarak
berkata, “Kami mengetahui Rabb kami, Dia bersemayam di atas ‘arsy berpisah dari
makhluk-Nya. Dan kami tidak mengatakan sebagaimana kaum Jahmiyah yang
mengatakan bahwa Alloh ada di sini (beliau menunjuk ke bumi).” [35]
I’tiqad para Sahabat, Tabi’in, dan
Tabi’ut Tabi’in dan ini merupakan syi’ar mereka, ahlus
sunnah wal jama’ah sejak dahulu hingga sekarang, bahkan di antaranya adalah
Imam Syafi’i, Abul Hasan al-Asy’ari, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dan
lain-lain. Tidak ada seorang pun dari ulama terdahulu yang mengatakan bahwa
Alloh ada di mana-mana, tidak di atas tidak di bawah, dan tidak seorang pun
menganggap tabu pertanyaan “Di mana Alloh”!!
Imam Syafi’i
berkata:
“Aqidah
yang saya yakini dan diyaikini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti
Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada
sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya yakni di atas
langitnya. (Adab Syafi’I wa Manaqibuhu Ibnu Abi Hatim hal. 93)
Imam Abul Hasan Al-Asy’ari
berkata dalam Al-Ibanah fi Ushul Diyanah hal. 17 menceritakan aqidahnya:
.(اسْتَوَى الْعَرْشِ
عَلَى الرَّحْمَنُ) قَالَ كَمَا عَرْشِهِ عَلَى اللهَ وَأَنَّ
“Dan
bahwasanya Allah di atas arsy-Nya sebagaimana firman-Nya: “Ar-Rahman tinggi di
atas arsy”.
Pada
hal. 69-76, beliau memaparkan dalil-dalil yang banyak sekali tentang keberadaan
Allah di atas arsy. Di antara perkataan beliau:
“Dan
kita melihat seluruh kaum muslimin apabila mereka berdo’a, mereka mengangkat
tangannya ke arah langit, karena memang Allah tinggi di atas arsy dan arsy di
atas langit. Seandainya Allah tidak berada di atas arsy, tentu mereka tidak
akan mengangkat tangannya ke arah arsy”.
“Dan
kaum Mu’tazilah, Haruriyyah dan Jahmiyyah beranggapan bahwa Allah berada di
setiap tempat. Hal ini melazimkan mereka bahwa Allah berada di perut Maryam,
tempat sampah dan WC. Faham ini menyelisihi agama. Maha suci Allah dari ucapan
mereka”.
Oleh
karenanya, saya tidak mengerti, sebenarnya saudara-saudara kita yang berfaham
Allah dimana-dimana, siapa sebenarnya yang mereka ikuti?! Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in dan orang-orang
yang mengikuti mereka, ataukah…?!! Fikirkanlah!
4.
Dalil Akal
Setiap
akal manusia yang masih sehat, tentu akan mengakui ketinggian Alloh di atas
makhluk-Nya. Hal tersebut dapat ditinjau dari dua segi:
Pertama:
Ketinggian Alloh merupakan sifat yang mulia bagi Alloh.
Kedua:
Kebalikan tinggi adalah rendah, sedang rendah merupakan sifat yang kurang bagi
Alloh, Maha Suci Alloh dari sifat-sifat yang rendah.
5.
Dalil Fithrah
Sesungguhnya
Alloh telah memfithrahkan kepada seluruh makhluk-Nya, baik Arab maupun non-Arab
dengan ketinggian Alloh. Marilah kita berpikir bersama di saat kita memanjatkan
do’a kepada Alloh, ke manakah hati kita berjalan? Ke bawah atau ke atas?
Manusia yang belum rusak fithrahnya tentu akan menjawab ke atas.
Pernah
dikisahkan bahwa suatu hari Imam Abdul Malik al-Juwaini mengatakan dalam
majelisnya, “Alloh tidak di mana-mana, sekarang ia berada di mana pun Dia
berada.” Lantas bangkitlah seorang yang bernama Abu Ja’far al-Hamdani seraya
berkata, “Wahai ustadz! Kabarkanlah kepada kami tentang ketinggian Alloh yang
sudah mengakar di hati kami, bagaimana kami menghilangkannya?” Abdul Malik
al-Juwaini berteriak dan menampar kepalanya seraya mengatakan, “Al-Hamdani
telah membuat diriku bingung, al-Hamdani telah membuat diriku bingung.” [36]
Akhirnya Imam Juwaini pun mendapat hidayah Alloh dan kembali ke jalan yang
benar. Semoga saudara-saudara kita yang tersesat bisa mengikuti jejak beliau.
Sebenarnya
masih sangat banyak lagi dalil-dalil dalam masalah ini, semua ini telah
dijelaskan oleh para ulama kita dalam kitab-kitab mereka. Bahkan di antara
mereka ada yang membahas masalah ini dalam kitab tersendiri seperi Imam Dzahabi
dalam bukunya al-‘Uluw lil Aliyyil Azhim.
Semoga
Alloh merahmati Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi yang telah mengatakan -setelah
menyebutkan 18 segi dalil-, “Dan jenis-jenis dalil-dalil ini, seandainya
dibukukan tersendiri, maka akan tertulis kurang lebih seribu dalil [37]. Oleh
karena itu, kepada para penentang masalah ini, hendaknya menjawab dalil-dalil
ini. Tapi sungguh sangatlah mustahil mereka mampu menjawabnya.” [38]
ü SYUBHAT DAN BANTAHANNYA
Adapun
syubhat yang dilontarkan oleh Dr.M.Quraish Syihab: “Karena ia menimbulkan kesan
keberadaan tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula
diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam …”.
Jawaban:
Apabila
yang maksud “tempat” adalah yang tersirat
dalam benak fikiran kita yaitu setiap yang meliputi dan membatasi seperti
langit, bumi, kursi, arsy dan sebagainya maka benar hal itu mustahil bagi Allah
karena Allah tidak mungkin dibatasi dan diliputi oleh makhluk, bahkan Dia lebih
besar dan agung, bahkan kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi. Allah
berfirman yang artinya:
“Dan mereka tidak
mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya
dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.
Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”. (QS.
Az-Zumar: 67).
Dan
telah shahih dalam Bukhari (6519) dan Muslim (7050) dari Nabi bahwa beliau
bersabda:
“Allah menggenggam bumi
dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya kemudian berfirman: “Saya adalah
Raja, manakah raja-raja bumi?”
Adapun
apabila maksud “tempat” adalah sesuatu yang tidak meliputi yakni diluar alam
semesta, maka Allah di luar alam semesta sebagaimana keberadaan-Nya sebelum
menciptakan makhluk.
Jadi,
Allah di tempat yang bermakna kedua ini bukan makna pertama [39].
Kemudian,
khabarkanlah padaku: Apabila tuan mengingkari ketinggian Allah, lantas saya
bertanya kepada tuan tentang keyakinan tuan: “Dimanakah Allah?”. Saya sangat yakin bahwa jawaban tuan tidak
keluar dari dua hal:
Pertama:
Allah ada dimana-mana
Faham
yang satu ini banyak dianut oleh mayoritas kaum muslimin sekarang ini. Padahal
tahukah mereka pemahaman siapakah ini sebenarnya?! Faham ini dicetuskan oleh
kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Imam Ahmad bin Hanbal telah menepis dan
membongkar kerusakan faham ini dalam kitabnya “Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal.53,
beliau mengatakan: “Apabila engkau ingin mengetahui kedustaan kaum Jahmiyyah
tatkala mengatakan bahwa Allah dimana-mana dan tidak berada di satu tempat,
maka katakanlah padanya: “Bukankah dahulu hanya Allah saja dan tidak ada
sesuatu lainnya?” Dia akan menjawab: “Benar” Lalu katakanlah padanya lagi:
“Tatkala Allah menciptakan sesuatu, apakah Dia menciptakannya pada diri-Nya
ataukah diluar dari diri-Nya?” Jawaban dia tidak akan keluar dari tiga hal:
1. Apabila
dia menyangka bahwa Allah menciptakan makhluk pada diri-Nya, maka ini merupakan
kekufuran karena dia telah menganggap bahwa Jin, manusia, syetan dan iblis pada
diri Allah!
2. Apabila
dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar diri-Nya kemudian Allah masuk
pada mereka, maka ini juga kekufuran karena dia menganggap bahwa Allah berada
di setiap tempat yang menjijikkan dan kotor!
3. Apabila
dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar dari diri-Nya kemudian Allah
tidak masuk pada mereka, maka ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah”.
[40]
Konsekuansi
faham sesat “Allah dimana-mana” ini sangatlah batil sekali yaitu Allah berada
di tempat-tempat yang kotor dan membatasi Allah pada makhluk sebagaimana diceritakan
dari Bisyr Al-Mirrisyi tatkala dia mengatakan: “Allah berada di segala
sesuatu”, lalu ditanyakan padanya: Apakah Allah berada di kopyahmu ini?!
Jawabnya: Ya, ditanyakan lagi padanya: Apakah Allah ada dalam keledai?!
Jawabnya: Ya!!!
Perkataan
ini sangatlah hina dan keji sekali terhadap Allah!!! Oleh karena itulah
sebagian ulama’ (para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in dan orang-orang
yang mengikuti mereka) mengatakan: “Kita masih mampu menceritakan perkataan
Yahudi dan Nasrhani tetapi kita tak mampu menceritakan perkataan Jahmiyyah!
Kedua:
Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak dikiri, tidak di
depan, tidak di belakang, tidak di dalam, tidak di luar, tidak bersambung,
tidak berpisah sebagaimana keyakinan ahli kalam (filsafat).
Ucapan
di atas jelas-jelas menunjukkan bahwa Allah tidak ada. Inilah ta’thil
(peniadaan) yang amat nyata. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.
Alangkah indahnya perkataan Mahmud bin Subaktukin terhadap orang yang mensifati
Allah dengan seperti itu: “Bedakanlah antara Allah yang engkau tetapkan dengan
sesuatu yang tidak ada! [41]. Oleh karena itulah, sebagian ulama’ (para
Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka)
juga mengatakan:
.عَدَمًا يَعْبُدُ
وَالْمُعَطِّلُ صَنَمًا يَعْبُدُ الْمُجَسِّمُ
“Al-Mujassim
itu menyembah patung dan Al-Mua’tthil menyembah sesuatu yang tidak ada”
Walhasil,
kedua jawaban diatas merupakan kebatilan yang tidak samar lagi bagi orang yang
beri hidayah oleh Allah. Semoga Allah merahmati Al-Allamah Ibnu Qayyim tatkala
mengatakan dalam qasidahnya “An-Nuniyyah” (2/446-447 -Taudhihul Maqasid cet.
Mkt Islami):
Allah Maha
besar, tidak ada satu makhlukpun di atas-Nya
Allah Maha
besar, arsy-Nya meliputi langit dan bumi demikian pula kursi-Nya
Allah di atas
arsy dan kursi, tak bisa dijangkau oleh fikiran manusia
Janganlah engkau
membatasinya pada satu tempat dengan ucapan kalian: “Allah ada di setiap
tempat”
Dengan modal
kejahilan, kalian mensucikan Allah dari arsy-Nya padahal kalian membatasinya
pada satu tempat
Janganlah kalian
tiadakan Allah dengan ucapan kalian: “Allah tidak di dalam dan tidak pula di
luar alam”
Allah Maha
besar, Dia telah membongkar tirai kalian dan nampak bagi orang yang punya dua
mata
Allah Maha besar,
Dia suci dari penyerupaan dan peniadaan, kedua sumber kekufuran.
ü KONTRADIKSI ARGUMEN Dr. M. QURAISH
SHIHAB
Setelah
anda mengetahui bahwa Dr.M.Quraish Shihab mengingkari ketinggian Allah dalam
bukunya “Membumikan Al-Qur’an”. Anehnya, kalau kita cermati bersama dan kalau
saja DR.M.Quraish Shihab juga mau mencermati, maka akan kita jumpai dalil-dalil
yang menolak fahamnya. Diantaranya:
1. Dalam
“Membumikan Al-Qur’an” hal. 338-345, Dr. Quraish Syihab mengulas makna Isra’
Mi’raj. Dia menetapkan adanya peristiwa Isra dan Mi’raj serta membantah gugatan
kaum empirisis dan rasiaonalis yang memustahilkannya seraya mengatakan:
“Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan
imaniyah. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, seperti tergambar
dalam ucapannya: Apabila Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
memberitakannya, pastilah benar”.
Alangkah
indahnya ucapan ini!! Namun sayangnya, mengapa beliau tidak menerapkan hal yang
sama dalam masalah ketinggian Allah ini?! Bukankah dalam peristiwa Isra Mi’raj
terdapat pelajaran berharga tentang ketinggian Allah?!! Al-Hafizh Ibnu Abil
Izzi al-Hanafi mengatakan: “Dalam hadits Mi’raj ini terdapat dalil tentag
ketinggian Allah ditinjau dari beberapa segi bagi orang yang menceramatinya”. [42]
Semoga saya dan anda termasuk orang-orang yang bisa mencermatinya.
2. Dalam
“Membumikan Al-Qur’an” hal. 314 pada judul Lailatul Qadr, Dr. Quraish Shihab
membawakan dalil:
.أَمْرٍ كُلِّ مِّن
رَبِّهِم بِإِذْنِ فِيهَا وَالرُّوحُ الْمَلاَئِكَةُ تَنَزَّلُ
“Pada
malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya
untuk mengatur segala urusan”. (QS. Al-Qadr: 4).
Ayat
mulia ini juga kalau kita mencermatinya dengan baik merupakan salah satu dalil
tentang ketinggian Allah, karena para Malaikat dan Jibril yang berada di dekat
Allah turun pada malam Lailatul Qadr, sedang kita faham semua bahwa makna kata
turun berarti dari sesuatu yang tinggi ke tempah yang lebih rendah. Semoga
Allah menjadikan kita manusia yang berakal.
ü TUDUHAN DAN JAWABANNYA
Satu
pembahasan lagi yang perlu diselesaikan yaitu tuduhan keji yang keluar dari
mulut kotor ahli bid’ah terhadap ahli haq yang menyatakan bahwa Allah berada di
atas langit disebut dengan kaum “Musyabbihah” atau “Mujassimah”. Dalam buku
“Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah” oleh KH. Sirajuddin Abbas dan dicopi oleh KH.
Ach. Masduqi dalam “Konsep Dasar Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” hal. 83
dikatakan demikian: “Golongan Musyabbihah ini juga dinamakan golongan
Mujassimah. Golongan ini mempunyai I’tiqad yang bertentangan dengan golongan
ASWAJA, antara lain:
Tuhan
itu berada di atas langit.
Menurut
golongan ASWAJA, Tuhan itu tidak berada di atas langit”.
Dan
pada hal. 84, penulis ini mengatakan: “Pada mulanya Ibnu Taimiyyah adalah
pengikut madzhab Hanbali dan banyak pengetahuannya dalam bidang fiqih dan
ushuluddin. Akan tetapi sayang sekali beliau terpengaruh oleh faham golongan
Musyabbihah/Mujassimah yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk…”.
Jawaban:
Tuduhan
seperti sudah tidak aneh lagi bagi kami karena memang demikianlah kebiasaan
ahli bid’ah semenjak dahulu hingga sekarang. Semoga Allah merahmati imam Abu
Hatim Ar-Razi yang telah mengatakan:
“Tanda
ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar. Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari
ahli sunnah dengan Musyabbihah”. [43]
Ishaq bin Rahawaih
mengatakan:
“Tanda
Jahm dan pengikutnya adalah menuduh ahli sunnah dengan penuh kebohongan dengan
gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu’atthilah (meniadakan/mengingkari sifat bagi Allah)”.
[44]
Adapun
tuduhan terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa beliau termasuk golongan
Mujassimah atau Musyabbihah, dengarkanlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah sendiri:
“Kelompok
Mu’tazilah dan Jahmiyyah dan sejenisnya dari kalangan pengingkar sifat, mereka
menuduh orang-orang yang menetapkannya dengan gelar Mujassimah/Musyabbihah,
bahkan diantara mereka ada yang menuduh para imam populer seperti Malik,
Syafi’I, Ahmad dan para sahabatnya dengan gelar Mujassimah dan Musyabbihah
sebagaimana diceritakan oleh Abu Hatim, penulis kitab “Az-Zinah” dan
sebagainya”. [45]
Padahal,
kalau mau dicermati, ternyata tuduhan “Mujassimah” itu sebenarnya mereka
sendiri yang pantas menerimanya (senjata makan tuan). Mengapa demikian? Karena
orang yang berfaham bahwa Allah berada di setiap tempat, dia telah membatasi
Allah pada tempat yang terbatas. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.
Adapun
pendapat yang menyatakan bahwa Allah di atas langit, tidaklah melazimkan tajsim
(membentuk). Mengapa demikian? Karena perkataan kita: “Allah tinggi di atas
arsy dan berpisah dari makhluknya” tidaklah berkonotasi membatasi Allah pada
satu tempat, sebab tempat itu sesuatu yang terbatas di langit dan bumi serta
antara keduanya, sedangkan di atas arsy tidak ada tempat. [46]
------------------------
Footnote.
[1] Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah hal. 96
[2]
Penerbit Mizan, Bandung ini banyak menerbitkan buku-buku berbahaya, sesat dan
menyesatkan kaum muslimin. Waspadalah!!
[3]
Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata dalam Ahkam Ahli Dzimmah 1/205:
“Mengucapkan selamat kepada orang kafir hukumnya haram menurut kesepakatan
ulama seperti ucapan selamat hari raya dan sebagainya. Kalau bukan kekufuran,
maka minimal adalah haram, sebab hal tersebut sama halnya dengan memberi
selamat atas sujud mereka terhadap salib”. (Lihat pula Syarh Mumti’ Ibnu
Utsaimin 8/75)
[4]
Ringkasan shalawat seperti ini tidak dibenarkan, hendaknya ditulis secara
sempurna.
[5]
Ar-Risalah (hal. 76),
[6]
At-Tamhid (9/67-68) Lihat pula Syarh Az-Zurqani (4/84) dan Tanwir Hawalik (3/5)
oleh as-Suyuthi.
[7]
Lihat As-Sunnah Ibnu Abi Ashim (hal. 226-227 -Dhilalul Jannah Al-Albani-) atau
(1/344 -Tahqiq Dr. Basim Al-Jawabirah-) dan Silsilah Ahadits As-Shahihah no.
3161 oleh Syaikh Al-Albani.
[8]
Silsilah Ahadits As-Shahihah (1/11)
[9]
Al-Asma’ wa Sifat (hal. 532-533 cet. Dar Kutub ‘ilmiyyah)
[10]
Syarh Sunnah (3/239) dan (9/247
[11]
Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah (2/118)
[12]
Itsbat Sifatil Uluw hal. 47
[13]
Al-Uluw lil ‘Aliyyin Adzim 1/249, tahqiq Abdullah bin Shalih al-Barrok
[14]
Fathul Bari (13/359)
[15]
Al-Qowashim wal ‘Awashim 1/379-380
[16]
Mukhtashar Al-Uluw hal. 82
[17] Setelah itu, penulis mendapatkan dua kitab
khusus tentang pembelaan hadits ini, yaitu buku Aina Allah? Difa‘an Hadits
Jariyah Riwayah wa Dirayah oleh Syaikh Salim al-Hilali dan risalah Takhilul Ain
bi Jawaz Sual ‘anillah bi Ain oleh DR. Shadiq bin Salim bin Shadiq. Bagi yang
ingin memperluas lagi pembahasan hadits ini, kami persilahkan membaca dua
risalah ini. Dan sebagai amanat juga,
kita harus mengingatkan pembaca dari para ahli bid’ah yang berusaha untuk
mementahkan hadits ini seperti al-Kautsari, al Ghumari, as-Saqqof dan lain
sebagainya, bahkan as-Saqqof memiiki buku berjudul “Menyuntik Pemahaman Dangkal
Tentang Peniadaan Lafazh Dimana Allah dalam Hadits Jariyah (budak wanita)”
sebagaimana dalam Kutub Hadzdzara minha Ulama I/300, Syaikh Masyhur Hasan
Salman.
[18]
Mutawatir. Sebagaimana ditegaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidha’
Shirath Mustaqim 1/34, as-Suyuthi dalam al-Azhar al-Mutanatsirah hal. 216,
al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 93, az-Zabidi dalam Samtul Aali hal.
68-71, al-Albani dalam Shalatul I’dain hal. 39-40. (Lihat Bashair Dzawi Syaraf
hal. 87-98 oleh Salim al-Hilali).
[19]
At-Tamhid (7/129, 130, 134)
[20]
Al-Asma’ wa Sifat (377)
[21]
Shahih. HR. Abu Daud (4941), Tirmidzi (1/350), Ahmad (2/160), Al-Humaidi (591),
Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (8/526), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak
(4/159). Dan dishahihkan Al-Hakim, Ad-Dzahabi, Al-‘Iraqi, Ibnu Hajar dan lain
sebagainya. Lihat As-Shahihah 3/594-595/922 oleh Al-Albani).
[22]
Lihat Silsilah Ahadits As-Shahihah 6/474-475 oleh Al-Albani.
[23]
Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Adzim (hal. 81 -Mukhtasar Al-Albani-)
[24]
HR. Tirmidzi (2108), Ibnu Majah (182), Ibnu Hibban (39 -Al-Mawarid), Ibnu Abi
Ashim (1/271/612), Ahmad (4/11,12) dan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (7/137).
Lihat As-Shahihah 6/469).
[25]
Shahih. Riwayat At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir (12/263/13054) dan sanadnya
shahih sebagaimana dikatakan Al-Albani dalam As-Shahihah 6/470 dan Muhktasar
Al-Uluw hal. 127.
[26]
al-Iqtishod fil I’tiqod hal. 89
[27]
I’lamul Muwaqqi’in (3/521)
[28]
Ta’liq Fathul Bari (1/188)
[29]
dalam Irwaul Ghalil (1/113)
[30]
Ar-Radd ala Jahmiyyah hal. 46-47
[31]
HR. Bukhari 7422 dan Muslim 2751
[32]
HR.Bukhari 4351 dan Muslim 1064
[33]
HR. Muslim 1218
[34]
Shahih. Diriwayatkan Baihaqi dalam Asma’ wa Sifat 408, adz-Dzahabi dalam
al-‘Uluw hal. 102 dan dishahihkan Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan al-Albani.
[35]
Shahih. Dikeluarkan ash-Shabuni dalam Aqidah Salaf 28 dan ad-Darimi dalam
ar-Radd ala Jahmiyyah hal. 47.
[36]
Lihat kisah lengkapnya dalam Siyar A’lam Nubala 18/475, al-‘Uluw hal. 276-277
oleh adz-Dzahabi
[37]
Sebagian pembesar sahabat Syafi’I berkata: “Dalam Al-Qur’an terlebih seribu
dalil atau lebih yang menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas para hambaNya”.
(Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 5/121)
[38]
Syarh Aqidah Thahawiyah hal. 386.
[39]
Muqaddimah Mukhtasar Al-‘Uluw hal. 70-71 oleh Al-Albani.
[40]
Lihat pula Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah hal. 76-80 oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
[41]
Lihat At-Tadmuriyyah hal. 41 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[42]
Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 1/277
[43]
Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah wal Jama’ah Al-Lalikai 1/204, Dzammul Kalam
al-Harawi 4/390.
[44]
Syarh Ushul I’tiqad al-Lalikai (937), Syarh Aqidah At-Thahawiyyah 1/85 oleh
Ibnu Abi Izzi Al-Hanafi.
[45]
Minhajus Sunnah (2/75)
[46]
Lihat “Al-Jama’at Al-Islamiyyah” hal. 230 oleh Salim Al-Hilali.

0 comments:
Post a Comment