Mengenal Hakikat Islam
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ
رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Tidaklah Kami mengutus sebelum
engkau [Muhammad] seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; tidak
ada ilah [yang benar] selain Aku, maka sembahlah Aku [saja].” (QS.
Al-Anbiya’: 25)
Imam al-Baghawi rahimahullah menafsirkan
makna perintah ‘sembahlah Aku’ dengan ‘tauhidkanlah Aku’ (lihat Ma’alim
at-Tanzil, hal. 834)
Tentang dakwah Nabi Nuh ‘alaihis
salam, Allah ta’ala berfirman,
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى
قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
“Sungguh Kami telah mengutus Nuh
kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi
kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al-A’raaf: 59).
Tentang dakwah Nabi Hud ‘alaihis
salam, Allah ta’ala berfirman,
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Dan kepada kaum ‘Aad, Kami utus
saudara mereka yaitu Hud. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi
kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. al-A’raaf: 65).
Tentang dakwah Nabi Shalih ‘alaihis
salam, Allah ta’ala berfirman,
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا
قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
“Dan kepada kaum Tsamud, Kami
utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah
tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al-A’raaf: 73).
Tentang dakwah Nabi Syu’aib ‘alaihis
salam, Allah ta’ala berfirman,
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا
قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
“Dan kepada kaum Madyan, Kami
utus saudara mereka yaitu Syu’aib. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah
tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al-A’raaf: 85).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
beliau menceritakan bahwa suatu ketika ada seorang lelaki datang kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menanyakan kepada
beliau tentang iman, islam, dan ihsan. Lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah,
apa itu Islam?”. Beliau menjawab, “Islam adalah kamu beribadah kepada Allah
dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kamu mendirikan sholat
wajib, membayar zakat yang telah diwajibkan, dan berpuasa Ramadhan.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Di dalam riwayat yang lain,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam
adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah [yang benar] selain Allah dan
Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat,
berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika kamu memiliki
kemampuan untuk mengadakan perjalanan ke sana.” (HR. Muslim dari ‘Umar bin
Khaththab radhiyallahu’anhu)
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam
dibangun di atas lima perkara; tauhid kepada Allah, mendirikan sholat,
menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari al-’Abbas bin Abdul
Muthallib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman; orang yang ridha
Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR.
Muslim)
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
“Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada
Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah
sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada
Allah dan kepada selain-Nya maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya,
yaitu sombong dan syirik bertentangan dengan islam. Oleh sebab itulah pokok
ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah
kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman
yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum
yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang
artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak
akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan
orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada
kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara
batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah
tidak akan bermanfaat tanpanya.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah, hal. 30)
Para ulama menjelaskan, bahwa Islam
yang dibawa oleh segenap rasul tegak di atas tiga prinsip pokok, yaitu :
- Berserah diri kepada Allah dengan tauhid
- Tunduk kepada-Nya dengan melakukan segala bentuk ketaatan
- Berlepas diri dari syirik dan pelakunya
Para ulama juga menerangkan, bahwa
Islam yang dibawa oleh segenap rasul menyepakati tiga landasan penting, yaitu :
- Tauhid kepada Allah
- Penetapan risalah/kerasulan
- Iman kepada hari kebangkitan/pembalasan
Islam ini memiliki beberapa karakter
mendasar, diantaranya adalah :
- Islam adalah agama fitrah
- Islam adalah agama yang benar di sisi Allah
- Islam adalah agama yang telah sempurna
- Islam adalah agama seluruh nabi dan rasul
- Islam adalah syarat untuk masuk surga
Istilah islam itu sendiri memiliki
empat pemaknaan :
- Islam dalam artian agama seluruh para rasul
- Islam secara khusus yaitu agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah menghapuskan syari’at-syari’at sebelumnya
- Islam secara bahasa yang artinya kepasrahan, terkadang juga disebut dengan istilah islam kauni yaitu kepasrahan kepada takdir Allah, maka dalam hal ini tidak ada satu pun makhluk yang keluar dari kepasrahan ini.
- Apabila dalam satu konteks dalil disebutkan secara berbarengan antara islam dan iman, maka istilah islam lebih condong ditafsirkan kepada amalan lahiriyah adapun iman ditafsirkan amalan-amalan batin.
Di dalam Islam ada empat dasar utama
dan empat hal yang menjadi lawannya, yaitu :
- Tauhid, lawannya adalah syirik
- Iman, lawannya adalah kekafiran
- Sunnah, lawannya adalah bid’ah
- Taat, lawannya adalah maksiat